| Geni, Putra Hajalia Somba saat memperlihatkan uang koin hasil celengan putranya selama satu tahun yang akan ditabung di Bank BRI Palu. (Foto : Dok) |
Palu, Seorang Ibu dari seorang anak di Palu mengkritik Bank BRI karena uang koin sebanyak Rp 941.000 yang akan ditabung anaknya ke Bank BRI ditolak petugas Teller.
Hajalia Somba mengatakan, pada Kamis (16/10/2014). Ia menemani putranya, Geni 7 Tahun untuk menabung di Bank BRI Cabang Palu di Jalan Muh. Hatta.
“Setelah mengantri 35 menit, dipanggil menuju Teller. Saat mengajukan uang anak saya yang akan ditabung petugas teller menolak menerima sekantong koin,” katanya. Alasan Teller, uang koin bisa diterima dengan jumlah 500 keping yang sudah tersusun rapi.
“Setelah mengantri 35 menit, dipanggil menuju Teller. Saat mengajukan uang anak saya yang akan ditabung petugas teller menolak menerima sekantong koin,” katanya. Alasan Teller, uang koin bisa diterima dengan jumlah 500 keping yang sudah tersusun rapi.
Hajalia menjelaskan, uang koin yang akan ditabung anaknya itu jumlahnya Rp 941.000 yang telah disusun rapi dan terpisah sesuai jumlah masing-masing koin yakni koin Rp. 1000, Rp. 500, Rp. 200, Rp. 100 bahkan ada koin Rp.50. Namun tetap saja di tolak Teller.
“Padahal seharian saya bantu anak saya hanya untuk menghitung, menyusun satu persatu koin hasil celengan anak saya itu dengan lakban setiap kelipatan Rp.10.000 untuk Koin yang berniai Rp. 1000 dan Koin Rp. 500. Sementara untuk koin Rp. 200, Rp. 100 dan Rp. 50 diikat dengan kelipatan Rp.1000 untuk memudahkan petugas Bank menghitungnya,” jelas Hajalia lagi.
“Saya pulang dengan rasa kecewa apalagi melihat anak saya yang pulang dengan rasa sedih karena semangat anak saya selama ini yang ingin menyisihkan setiap uang jajannya di celengan untuk ditabung di Bank,” tambahnya lagi.
"Padahal uang ini dikumpulkan anak saya kurang lebih 1 tahun lamanya,” urainya yang menyebut anaknya itu terus bertanya, "Bu, terus ini uang koinku kita bawa kemana sambil membolak-balikkan buku tabanasnya yang belum berubah jumlahnya,” sebut Hajalia. (by Subandi Arya/MS)
Tidak ada komentar: