Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Tukang Sapu dan Tukang Sampah



Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”
Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal ini tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”
“Tidak,” jawabnya.
Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’  Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im ia cari-cari dan dambakan.”
Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.
Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.
Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu kan-nas (sama seperti manusia lain)?'” Sungguh, ini kata-kata spontan belaka, yang kebetulan saja berlaku. (ha)

Tafsir Terbaik

hati
قَالَ حَسَنٌ اَلْبَنَّا – رَحِمَهُ اللهُ
“وَبَعْدُ، فَقَدْ سَأَلَنِيْ أَحَدُ الْإِخْوَانِ عَنْ أَفْضَلِ التَّفَاسِيْرِ وَأَقْرَبِ طُرُقِ الْفَهْمِ لِكِتَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَكَانَ جَوَابِيْ عَلَى سُؤَالِهِ هَذَا هَذِهِ الْكَلِمَةَ:
“قَلْبُكَ”، فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ – وَلَا شَكَّ – هُوَ أَفْضَلُ التَّفَاسِيْرِ لِكِتَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
وَأَقْرَبُ طَرَائِقِ الْفَهْمِ؛ أَنْ يَقْرَأَ الْقَارِئُ بِتَدَبُّرٍ وَخُشُوْعٍ، وَأَنْ يَسْتَلْهِمَ اللهَ الرُّشْدَ وَالسَّدَادَ، وَيَجْمَعَ شَوَارِدَ فِكْرِهِ حِيْنَ التِّلَاوَةِ، وَأَنْ يُلِمَّ مَعَ ذَلِكَ بِالسِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ اَلْمُطَهَّرَةِ، وَيُعْنَى بِنَوْعٍ خَاصٍّ بِأَسْبَابِ النُّزُوْلِ وَارْتِبَاطِهَا بِمَوَاضِعِهَا مِنْ هَذِهِ السِّيْرَةِ، فَسَيَجِدُ فِيْ ذَلِكَ أَكْبَرَ الْعَوْنِ عَلَى الْفَهْمِ الصَّحِيْحِ السَّلِيْمِ.
وَإِذَا قَرَأَ فِيْ كُتُبِ التَّفْسِيْرِ بَعْدَ ذَلِكَ فَلِِلْوُقُوْفِ عَلَى مَعْنَى لَفْظٍ دَقَّ عَلَيْهِ، أَوْ تَرْكِيْبٍ خَفِيَ أَمَامَهُ مَعْنَاهُ، أَوْ اِسْتِزَادَةٍ مِنْ ثَقَافَةٍ تُعِيْنُهُ عَلَى الْفَهْمِ الصَّحِيْحِ لِكِتَابِ اللهِ، فَهِيَ مُسَاعِدَاتٌ عَلَى الْفَهْمِ، وَالْفَهْمُ بَعْدَ ذَلِكَ إِشْرَاقٌ يَنْقَدِحُ ضَوْؤُهُ فِيْ صَمِيْمِ الْقَلْب
Hasan al-Banna – rahimahullah – berkata:
“Salah seorang ikhwan bertanya kepadaku tentang tafsir terbaik, dan tentang metode terpendek untuk memahami kitab Allah SWT. Maka jawaban saya atas pertanyaanya adalah kalimat berikut:
- Hatimu, sebab hati seorang mukmin, tanpa diragukan lagi, adalah tafsir terbaik terhadap kitab Allah SWT.
Sedangkan metode terpendek untuk memahami kitabullah adalah:
1. Hendaklah seorang pembaca Al-Qur’an membacanya dengan tadabbur dan khusyu’.
2. Hendaklah sang pembaca Al-Qur’an berupaya berniat untuk mendapatkan ilham jalan lurus dan kebenaran dari Allah SWT.
3. Hendaklah sang pembaca Al-Qur’an menghimpun dan memfokuskan pikirannya saat membaca Al-Qur’an.
4. Disamping itu, hendaklah sang pembaca Al-Qur’an mempunyai perhatian khusus terhadap sirah (perjalanan) hidup nabi Muhammad SAW.
5. Hendaklah sang pembaca Al-Qur’an memberi perhatian secara khusus terhadap asbabun-nuzul dan keterkaitan posisinya dengan sirah Nabi tersebut.
Dengan demikian, sang pembaca Al-Qur’an akan menemukan penolong terbesar untuk mendapatkan pemahaman yang benar dan selamat.
Dan jika ia membaca atau merujuk kepada kitab-kitab tafsir setelah itu, hal itu ia lakukan dalam rangka:
1. Mendapatkan dan mendalami satu makna yang masih belum jelas baginya, atau
2. Dalam rangkan mendalami satu bentuk susunan kalimat yang maknanya masih tersamar baginya, atau
3. Menambah wawasan dan pengetahun yang dapat menolongnya untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap kitabullah.
Sebab semua ini adalah alat bantu-alat bantu untuk sebuah pemahaman.
Sedangkan pemahaman itu sendiri, pada hakekatnya, merupakan ISYRAQ, (yaitu munculnya semacam cahaya ke dalam diri seseorang, yang dengannya ia mendapatkan suatu pengetahuan) yang terekam di dalam relung hati. (AAR/al-ikhwn.net)

Sebelum Tergoda Menyalahkan Murobbi



Catatan Detti Febrina:

Ramadan kali itu tidak ada program intensif siswa yang tersedia dalam waktu lebih panjang. Maka saya minta seorang akhwat mengajar tahsin Al Qur'an dan taklim untuk Tsabita, Tsaqifa, dan Ukasyah. Akhwat itu dulu mutarobbi saya.

Jelang Ramadan berakhir - apalagi mau hari raya - selayaknya saya menyiapkan honor mengajar. Setelah proses tolak menolak dan setengah paksa memaksa yang cukup komik (persis anak TK ...) akhirnya amplop honor itu susah payah masuk saku jaketnya.

Satu saja kalimatnya yang sempat membuat saya tertegun, "Umi dulu berbulan-bulan mengajar kami (liqo) tanpa dibayar, masak saya ngajar adik-adik sebentar saja minta dibayar ...".

...

Tetiba ingat potongan fragmen itu saat menyimak kultwit ngomel Bro Afwan Riyadi (2/11/2014). Dichirp oleh M. Luthfie Arie lalu dirapikan Achmad Rochfii Chaniago, berikut kultwit yang kami juduli saja: "Liqo Itu Kebutuhan Kita"

Enjoy.

***

 LIQO ITU KEBUTUHAN KITA
kultwit oleh @af1_ (Afwan Riyadi)

Alhamdulillah kelompok halaqah nambah terus .. Walau sayang, yg lama anggotanya angot2an datangnya.

Saya ingin katakan bagi ikhwan akhwat yg datang liqo suka angot2an : Harusnya antum bersyukur; ada orang yg bersedia berbagi ilmu dgn antum

Sadarkah antum, murabbi/murabbiyah itu selalu memberikan waktunya untuk antum? Menyisihkan waktu bagi keluarganya?

Lalu dengan enteng, antum yg gak pernah membayarnya untuk mengajari antum itu berkata : afwan bang, ane gak bisa datang liqo.

Itu masih mendingan .. Malah lebih sering yg tanpa kabar berita. Hilang begitu saja.

Lalu sering banget terjadi; kemudian orang2 yg jarang datang liqo ini, bicara yang tidak2 terhadap murabbinya.

"MR ane gak peka. Masak ane gak pernah dateng liqo dibiarin aja, bukannya di telpon kek. Di SMS kek. Enggak dia diam aja. Mana ukhuwwahnya?"

Lalu mutung tanpa sebab, lalu bicara yg tidak2 tentang jama'ah .. Ini semua pangkalnya 1 : malas datang liqo dgn semua alasan2 yg dibuat2

Ada yg bilang males liqo karena murabbinya gak punya kafa'ah syariah. Saya ingatkan : ini liqo, bukan kelas di Ma'had.

Kalau mau faham syariah, ya ikut kuliah di Ma'had. belajarnya Intensif. Bayar. Masak mau jadi ahli fiqih cuma ikut program gratis pekanan?

Halaqah itu bukan itu. Disini yg dibina adalah fikrah & amal sekaligus. Membersihkan jiwa dari Syirik, mengajarkan hikmah2 yg ada dimana2.

Materi2 dasarnya adalah hal2 yg wajib setiap Muslim memahami & menjalankannya : mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam dsb

Kalau datangnya bolong2; ana kuatir pemahaman yg lengkap ttg apa itu Islam menjadi kurang sempurna.

Sadarkah kita, murabbi/murabbiyah itu terkadang juga berat memberikan waktunya sekali sepekan untuk mendidik kita?

Sementara mereka juga sudah memberikan waktunya sekali sepekan untuk datang ke halaqah-nya sebagai mutarabbi ..

Sementara mereka jg punya banyak tuntutan dakwah dimana-mana. Membina ini itu, mendidik anak istrinya, mengurus keluarganya, mencari nafkah

Dia harus sering muncul di masyarakatnya. Aktif di lingkungannya, aktif di tempat kerjanya, aktif di DPRa & DPC-nya.

Dan kita yg enteng angot2an datang ini mencibirnya : MR ane gak ukhuwwahnya kuran.. Ane jarang masuk gak ditengokin.

Kalo ada ikhwan akhwat yg begini; ane pengen banget kasih cermin guede ke mukanya.

Lha elu, apa ngasih ongkos buat MR lu buat nengokin? Apa ngasih pulsa buat nelpon elu? Apa pernah elu bayar dia tiap liqo?

Kita-nya sendiri yg gak datang tanpa sebab, gak bilang2, wa la salam wa la kalam .. Siapa yg sebenarnya butuh halaqah itu? Kita atau MR?

Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo. Ane lagi sibuk.. Dia kira MR-nya pengangguran apa?? Ane bilang ini penghinaan.

Ada yg bilang : Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak. Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.

Tapi dia bela2in meninggalkan anak2nya sesaat demi menyampaikan dakwah kepada kita2 ini .. Kok ya gak bersyukur ..

Saya ceritakan beberapa pengalaman kawan2 saya tentan liqo..

Ada ummahat di Kaltim, liqonya beda kabupaten karena tempatnya belum ada. Pergi liqo naik kapal bawa 4 anak2nya yg masih kecil2.

Ada ikhwan di kota kecil di Sumbar, liqo harus ke Padang yg jaraknya 100 km. Dia tiap pekan nginap di Padang cuma untuk liqo.

Ada ustadz di Pekanbaru, diminta membuka dakwah di suatu kabupaten. Gak punya ongkos, dia tiap pekan pergi numpang truk buat ngisi liqo.

Ada temen liqo ane sendiri, dulu membina di Serang skrg lagi kuliah di Depok. Binaan2nya rela naik motor kerumahnya buat liqo sepekan sekali

Mereka gak mau dipindahin. Daripada bubar ditantang : ya sudah kalo maunya liqo sama ane; datang ente ke Ciputat. Eh beneran datang terus

Orang2 macam begini ini, yg setiap langkahnya menuntut ilmu selalu diiringi doa oleh mahluq2 Allah ..

Eeeh kita2 datang liqo males2an. Trus mengeluh : kok ummat Islam ini gak menang2 ya? Ya gimana mau menang? Yg sudah sadar aja males2an.

Dateng liqo males2an; trus bilang : Ane gak dapet apa2 di liqoan. Ya gimana mau dapet kalo datang aja bolong2??

Ane gak marah .. Cuman bahasanya ane tegasin biar yg dateng liqo males2an bisa sadar.

Dulu ane pernah "debat" sama mantan ikhwah. Dia banyak menyerang pandangan2 ikhwan ttg suatu masalah. Ternyata 1 masalahnya : dia suka bolos

Ya kalo suka bolos, lalu jadi nggak paham manhaj-nya, lalu menyalahkan manhaj itu .. Itu sih menurut ane jahil murakkab .. kebodohan kuadrat

Menyalahkan manhaj --> itu jahil. Karena gak paham --> itu jahil. Gak paham karena bolos melulu --> itu jahil.

Ada mantan ikhwan yg bilang "Ane mau liqo kalo murabbi-nya kayak DR.Hidayat Nur Wahid" .. emang lu siapee? (^o^)

DR.Hidayat Nur Wahid cuma 1. DR.Surahman cuma 1. Ust. Rahmat Abdullah cuma 1 & sudah wafat. Kalau hanya mereka yg membina, mau sekuat apa?

Dia ternyata liqo selama itu masih gak paham juga, bahwa liqo itu bukan semata thalabul'ilmi. Liqo itu ta'akhy; persaudaraan,

Ust.Rahmat Abdullah (alm) dulu pernah cerita; di Medan th 90-an, ada tukang becak yg jadi murabbi bagi seorang doktor.

So what? Apakah seorang doktor harus selalu lebih mulia dibanding tukang becak? Apakah dia tak bisa belajar apapun dari tukang becak? (piyungan)

Udah dulu yak
*sumber: http://www.dettifebrina.com/2014/11/sebelum-tergoda-menyalahkan-murobbi.html

Murabbi, Guru Sekaligus Dai

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)
Sesungguhnya di dunia ini ada taman-taman surga. Apakah yang dimaksud taman surga dunia itu? Rasulullah bersabda “Apabila kamu melewati taman-taman surga berlabuhlah di sana. Kemudian para sahabat bertanya ‘apakah taman-taman surga itu ya Rasulullah?’ Beliau menjawab “majelis-majelis ilmu”.

Halaqah tarbawi ya itulah gambaran taman surga dunia. Untukmu wahai para murabbi di sanalah terdapat surga peran bagimu dalam halaqah tarbawi. Lalu surga peran seperti apakah dimaksud?

Ya, di dalam halaqah tarbawi kau mendapat kesempatan untuk menambah medan amal melalui peranmu. Sebagai murabbi surgakan peranmu sebagai guru dan dai dalam halaqah tarbawi.

Murabbi, dialah seorang guru yang mendidik para mutarabbi untuk lebih mengenal islam. Murabbi, dialah seorang guru yang memberi wawasan-wawasan yang baru mengenai kehidupan. Murabbi, dialah seorang guru yang mengajarkan suatu hal melalui hikmah (bil hikmah). Murabbi, dialah seorang guru yang memberikan keteladanan yang baik (qudwah hasanah).

Wahai murabbi, kau juga seorang dai yang menyeru manusia kepada Allah dan kebaikan “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran…”(QS. Ali Imran: 104).

Begitulah peran murabbi, menebarkan kebermanfaatan untuk orang lain “khairunnas anfa’uhum linnas”, mengajarkan kebaikan kepada sesama makhluk sehingga kau akan terus hidup dan mulia.

Seperti yang dikatakan Sayyid Quthb “Innal ladzii ya’iisyu li nafsihi, ya’iisyu shaghiiran wa yamuutu shaghiiran. Wal ladzii ya’iisyu li ummatihi ya’iisyu ‘azhiiman kabiiran wa laa yamutu abadan.” Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk umatnya ia akan hidup mulia dan besar, serta tidak akan pernah mati.

Wahai murabbi kau adalah guru sekaligus dai maka istiqomahlah di dalam peranmu karena masih banyak ratusan hati, jutaan jiwa yang merindukan tegaknya kembali nilai-nilai Islam di bumi ini. “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah..”(QS. Fushilat : 33).

Wahai murabbi kelak kau akan mendapat buah-buah dakwah yang kau lakukan. Percayalah. “..Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104). (dakwatuna)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59257/murabbi-guru-sekaligus-dai/#ixzz3HrRYIknN 

Tiga Karakteristik Manusia | Oleh : Abbas As - Siisi

|   Foto Ilustrasi |



Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:

1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid.  Orang  yang  seperti
ini harus dinomorsatukan, kerana mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga
tidak  membutuhkan  tenaga  yang  banyak  dan  untuk  mengajak  mereka pun tidak
banyak kesulitan, insya Allah.

2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mahu terang-terangan dalam
berbuat   maksiat   kerana   ia   masih   menghormati   harga   dirinya.   Orang-orang
semacam ini menempati urutan kedua.

3 . Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang
tidak  peduli  terhadap  orang  lain,  sedang  orang  lain  mencibirnya  kerana  perbuatan
dan perangainya yang jelek. Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah
orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya kerana takut dengan kejelekannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan  inilah  yang  disebut  dalam  sabda  Rasulullah  saw. sebagai: "Sejelek-jelek
teman bergaul". (HR. Muslim)

Orang-orang   semacam   ini   menempati   urutan   terakhir   dalam   prioritas
dakwah fardiyah.

Ada  seseorang  berdiri  di  bawah  pohon  epal  yang  sedang  berbuah  lebat. Jika  ia
ingin  memetik,  ia  terlebih  dulu  memetik  buah  yang  dapat  dijangkau  dengan
tangannya. Jika sudah habis, dan tinggal yang paling atas, maka  jika  dapat  dijangkau
buah itu akan dipetik dan kalau tidak,  buah tersebut tidak akan terpetik.

Bukan  bererti  seorang  da'i  harus  tetap  berpegang  dan  terikat  dengan  urutan  ini,
kerana  kadangkala  keadaan  bisa  mengubah  pandangannya  dalam  hal  ini  —dengan
izin Allah— seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab ra., Khalid bin Wahd ra., Amr
bin Ash ra., dan yang lain.

Ada  seseorang  yang  pergi  ke  pantai  untuk  memancing  ikan  dengan  membawa
peralatan  pancing.  Menurut  pengalamannya,  dengan  peralatan  yang  ia  bawa  itu
hanya  akan  mendapatkan  ikan-ikan  kecil.  Tetapi  pada  saat  itu  ia  terkejut  kerana
mendapatkan ikan yang besar.
Ada beberapa pemuda dari daerah Bulaq, Kairo, yang berkeliling mencari tanah yang
kosong untuk digunakan sebagai  tempat  peringatan  Maulid  Nabi  Muhammad  saw.,
yang  akan  dihadiri  oleh  Imam  Hasan  Al-Banna  sebagai  pembicara.  Di  sebelah
warung  makan,   mereka  menjumpai  tanah  lapang,  lalu  mereka  bertanya  kepada
pemilik   warung   makan   tersebut.   Pemilik   warung   itu   adalah   Ustadz   Ibrahim
Karrum,  seorang  tokoh  dari  daerah  Bulaq  yang  disegani  oleh  pemerintah  yang
berkuasa  pada  waktu  itu  dan  disegani  pula  oleh  kawan  sendiri.  Setelah  mengetahui
maksud  dan  tujuan  pemuda-pemuda  itu,  beliau  menyambutnya  dengan  sambutan
yang  luar  biasa  dan  menyatakan  kesediaannya.  Setelah  mereka  kembali,  mereka
menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ustadz Hasan Al-Banna.

Ketika  Ustadz  Al-Banna  berangkat  untuk  berceramah  dalam  acara  tersebut,
terlebih  dahulu  beliau  mengunjungi  Ustadz  Ibrahim  Karrum  dan  mengucapkan
terima  kasih  atas  kebaikannya.  Begitu  pula  tatkala  beliau  mulai  berceramah,
beliau  juga  mengucapkan  terima  kasih  kepada  Ustadz  Ibrahim  Karrum  untuk
kedua kalinya.

Sejak saat itu, Ustadz Ibrahim aktif dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin. Pada bulan
Maret 1954 M. beliau memimpin  demonstrasi  akbar  terhadap  Jamal  Abdun  Naser.
Mereka  menuntut  agar  Presiden  Muhammad  Najib  dipulangkan  ke  Mesir  dan
anggota  Ikhwanul  Muslimin yang dipenjara dibebaskan. Beliau juga pernah dipenjara
bersama  anggota  Ikhwanul  Muslimin  yang  lain.  Semoga  Allah  swt.  memberikan
rahmat kepadanya.

Tatkala   seorang   da'i   melihat   beberapa   pemuda   —   yang   wajah   mereka
menyiratkan   ketaatan—   maka  ia  berkeinginan   untuk   berkenalan   dan   mengajak
mereka ke jalan dakwah.

Yang  perlu  diperhatikan  adalah  dalam  mendekati  mereka dibutuhkan langkah
yang  cermat,  kerana  biasanya  pemuda-pemuda  ini  mempunyai  seseorang  yang,
mereka segani dan hormati. Jika seorang da'i dapat mendekati orang tersebut, sangat
dimungkinkan pemuda-pemuda itu mengikuti dakwah kita. Namun jika pendekatan
ini tidak berhasil, sebagai da'i, ia tidak boleh putus asa. Ia harus mendekati salah satu
pemuda —di antara pemuda-pemuda tadi— yang pemahamannya terhadap dakwah
islamiah lebih mantap, bergaul dengannya — dan juga yang lain— dengan sabar
dan    penuh    kasih    sayang    tanpa    menyinggung    permasalahan    yang    dapat
menyebabkan  hubungan  itu  terganggu.  Jika  —dengan  izin  Allah—  pemuda  itu
mahu   menerima   ajakan   kita,   ini   akan   sangat   membantu   usaha   kita   untuk
mengajak teman-temannya yang lain.

Pendekatan  itu  harus  dilakukan  dengan  lemah  lembut.  Kita  harus  menyadari
bahawa  kita  tidak  diwajibkan  untuk  memastikan  mereka  semua  menerima  ajakan
kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah.
Hanya Dialah yang berhak memberikan hidayah. Allah berfirman,
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu
cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah
lebih mengetahui orang-orangyang mahu menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)
Ayat  ini  menjelaskan bahawa  walaupun  kita  memberikan segenap hati kita untuk
mengajak  mad'u  kita,  tetapi  hanya  Allah-lah  yang  berhak  membolak-balikkan  hati
orang tersebut.

Seorang  tukang  roti  berdin  di  depan  forn  (tempat  pembakaran  roti),  sambil
memasukkan potongan-potongan roti ke dalamnya. Setelah menunggu beberapa saat,
ia mengeluarkan roti yang sudah matang dan membolak-balikkan yang belum matang.
Setiap kali ada roti yang sudah  matang, ia akan  mengeluarkannya. Bisa dipastikan
bahawa ada beberapa potong roti yang jatuh ke dalam api dan terbakar.

Inilah   keadaan   da'i   tatkala   berdakwah   di   masyarakat;   ia   memberi   sekaligus
menerima  (give  and  take).  Suatu  saat  ia  mendekat  dan  pada  saat  yang  lain  ia
menjauh.

Ia   akan   memberi   kepada   setiap   orang   sebagaimana   seorang   doktor   yang
memberikan  ubat  dengan  berlaku  sabar.  Setelah  selang  beberapa  waktu,  di  antara
mereka  sudah  ada  yang  tersinari  oleh  cahaya  iman  (inilah  roti  yang telah  matang),
ada  yang  menyambut  ajakan  tersebut  kerana  perasaan  takut,  ada  yang  menyambut
ajakan   tersebut   kerana   malu,   ada   yang   bersikap   angin-anginan,   ada   pula   yang
menjauh,   dan   bahkan   ada   yang   berlaku   tidak   baik   terhadap   sang   da'i.   Untuk
menghadapi  mereka  itu,  kita  tidak  boleh  putus  asa,  tetapi  harus  terus  berusaha
sehingga yang ditunggu-tunggu dapat dipetik, disertai  doa  agar  Allah  membukakan
hati mereka.

Adapun  da'i  yang  menghabiskan  waktunya  hanya  untuk  satu  orang  dengan
harapan  agar  orang  tersebut  mahu  menerima  ajakannya  adalah  tidak  benar.  Orang
tersebut  akan  merasa  bahawa  dirinya  diajak  dengan  cara  yang  sangat  berlebihan,
sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah swt.

Kaedah yang harus kita perhatikan adalah: "Ambillah yang mudah dan tinggalkan

yang sulit, jika ada yang mudah". 

Sumber : Buku At-Thariq ilal Quluub, Abbas As - Siisi

Tugas Kita | Oleh : Abbas As - Sisi

Dalam   memberikan   arahan   (taujih)   tentang   tugas   dakwah,   Imam   Syahid
Hasan  Al-Banna  memberikan  perumpamaan  dengan  perkataannya,  "Di  setiap
kota    terdapat    pusat    pembangkit    tenaga    listrik.    Para    pegawai    memasang
instalasinya  di  seluruh  penjuru  kota,  memasang  tiang  dan  kabel,  setelah  itu  aliran
listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran
listrik  tersebut  kita  matikan  dari  pusat  pembangkitnya,  niscaya  seluruh  penjuru
kota  akan  gelap  gulita.  Padahal saat  itu  tenaga  listrik  ada  dan  tersimpan  di pusat
pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik yang ada itu tidak dimanfaatkan."

Demikianlah,  Allah  swt.  telah  menurunkan  Al  Qur'an Al-Karim kepada
kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah swt. berfirman,  
Sesunggubnya   telah   datang   kepada   kalian   cahaya   dari   Allah,   dan   kitab   yang
menerangkan.   Dengan   kitab   itulah   Allah   menunjuki   orang-orang   yang   mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itupula) Allah mengeluarkan mereka
dari  gelap  gulita  kepada  cahaya  yang  terang   benderang   dengan   seizin-Nya,   dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)

Begitu  pula  dengan  Al-Qur'an  Al-Karim,  ia  adalah  pusat  pembangkit  "tenaga"
bagi  kaum  muslimin,  tetapi  sumber  kekuatan  itu  kini  dicampakkan  oleh  kaum
muslimin  sendiri,  sehingga  hati  mereka  menjadi  gelap  dan  tatanan  kehidupan  pun
menjadi rusak.

Tugas  kita  sebagai  da'i  adalah  seperti  tugas  para  pegawai  listrik,  mengalirkan
kekuatan  ini  dan  sumbernya  ke  setiap  hati  orang-orang  muslim  agar  senantiasa
bersinar dan menerangi sekelihngnya. Allah swt. berfirman,

"Dan  apakah  orang  yang  sudah  mati,  kemudian  dia  Kami  hidupkan  dan  Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-
tengah  masyarakat  manusia,  serupa  dengan keadaan  orang yang berada dalam gelap
gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)

Tatkala  Anda  ingin  memikat  hati  mad'u,  Anda  harus  ingat  bahwa  Anda  adalah
seorang  da'i,  bukan  seorang  ulama  atau  fuqaha.  Tatkala  Anda  berdakwah,  Anda
harus  ingat  bahwa  Anda  sedang  memberikan  hadiah  kepada  orang  lain,  maka  Anda
harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana
cara memberikannya.


Sumber : Abbas As-Sisi, At-Thariq ilal Quluub 

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)

renungan surat al-kahfi

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pada kajian sebelumnya kita telah mengupas berbagai pelajaran berharga darisurat al-Kahfi. Kita akan kembali melanjutkan beberapa pelajaran penting lainnya, yang bisa kitagali dari surat al-Kahfi,
Pertama, semangat orang kafir untuk memurtadkan orang beriman, sekalipun melalui cara kekerasan.
إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا
Sesungguhnya mereka jika berhasil menangkap kalian, mereka akan merajam kalian atau mengembalikan kalian ke agama mereka, dan kalian tidak akan beruntung selamanya.
Kedua, keputusan raja dan penguasa, tidak bisa jadi dalil sebuah kebenaran. Termasuk adanya bangunan di kuburan orang shaleh.
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
Demikianlah kami pertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.
Setelah ashabul kahfi dibangunkan oleh Allah, keadaan mereka diketahui masyarakat sekitar. Hingga akhirnya penguasa mereka bermaksud mendirikan masjid di gua itu untuk mengenang kehebatan ashabul kahfi. Dan peristiwa ini bukan dalil anjuran membangun masjid di kuburan.
Ketiga, berbicara masalah ghaib tanpa dalil termasuk perbuatan tercela. Allah menyebutnya ‘rajman bil ghaib’ (nebak-nebak yang ghaib).
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, menebak yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”
Keempat, al-Quran bercerita tantang kejadian masa silam agar generasi selanjutnya mengambil pelajaran dariya. Karena itu, bagian yang tidak penting, tidak disebutkan al-Quran. Allah tidak menyebutkan berapa jumlah yang pasti untuk ashabul kahfi, siapa nama mereka, dst.
Kelima, dalam kasus yang kita tidak memiliki sumber kebenarannya, tidak selayaknya diperdebatkan dengan serius. Perdebatan hanya dilakukan di permukaan (mira’ dzahir), tidak sampai dimasukkan ke dalam hati.
قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja…
Keenam, larangan untuk bertanya kepada orang yang tidak layak dimintai fatwa. Allah melarang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada orang yahudi tentang ashabul kahfi, karena mereka tidak memiliki ilmu yang detail tentangnya.
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
As-Sa’di menyebutkan, dua jenis manusia yang tidak layak dimintai fatwa,
  1. Orang yang memiliki keterbatasan pengetahuan apa yang difatwakan
  2. Orang yang kurang peduli dengan apa yang dia ucapkan, tidak memiliki rasa takut terhadap konsekuensi buruk fatwa.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 473)
Ketujuh, Allah melarang Nabi-Nya untuk menyampaikan rencana ke depan, tanpa digandengkan dengan kehendak Allah. Jika nabi dilarang, tentu umatnya juga lebih dilarang. Karena itu, ayat yang berisi perintah dan larangan untuk nabi, juga beraku untuk seluruh umatnya.
Kedelapan,  mengembalikan suatu rencana kepada kehendak Allah, maka rencana itu akan dimudahkan, diberkahi, dan diberi pertolongan oleh Allah.
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ( ) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, ( ) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.
Kesembilan, perintah untuk mengingat Allah ketika lupa.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
“Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…”
Ulama berbeda pendapat tentang makna kata ‘lupa’ dalam ayat ini,
  1. Lupa mengucapkan insyaaAllah ketika mengucapkan rencana, sekalipun menyampaikan rencana itu dilakukan kemarin atau bahkan jauh sebelum itu. (pendapat mayoritas ulama)
  2. Ingatlah Allah ketika engkau marah. (pendapat Ikrimah)
  3. Ingatlah Allah ketika melakukan maksiat. Karena maksiat termasuk lupa. (pendapat Ikrimah)
  4. Ingatlah Allah ketika lupa apapun, agar Allah mengingatkan kamu dari apa yang terlupakan. (pedapat al-Mawardi)
Kesepuluh, hikmah mengucapkan insyaaAllah ketika mengungkapkan rencana, agar kita tidak termasuk berdusta ketika rencana itu gagal. Kita juga dianjurkan mengucapkan isyaaAllah, ketika bertekad untuk berusaha memiliki karakter yang baik.
Nabi Musa menyatakan di haapan Khidr,
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.
Kesebelas, perintah untuk selalu memohon hidayah,
وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
Dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.”
Karena itulah, kita diwajibkan untuk selalu memohon hidayah dalam setiap shalat, melalui bacaan surat al-Fatihah.
Allahu a’lam
insyaaAllah bersambung.. (konsultasisyariah.com)
Baca artikel sebelumnya: Renungan Surat al-Kahfi (bagian 01)
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)